"TIDUR NYA PEMERINTAH TERHADAP PEMBANGUNAN PENDIDIKAN"
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
salam sejahtera untuk kita semua...
perkenalkan nama saya Jamalludin, saya anak ke-4 dari empat bersaudara, saya memiliki satu orang abang dan dua orang kakak. saya terlahirkan dari seorang ayah yang bernama M.Yunus, dan seorang ibu yang bernama Asnah. Saya lahir di desa Seruat Satu Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada saat masa kecil, saya menjadi pengambala kambimg sampai di bangku sekolah menegah pertama (SMP). Saat saya mengembala kambing alhamdullillah kambing yang saya pelihara berkembang biak dengan baik dan dapat di jual kepada orang-orang yang ingin berqurban dan sebagiannya di peruntukan untuk qurban orang tua serta saudara saya. saya menempuh pendidikan di SDN 14 Teluk Pakedai lalu melanjutkan di SMPN 5 Teluk Pakedai setelah lulus di bangku sekolah menengah pertama (SMP) saya melanjutkan pendidikan di SMK Muhammadiyah 1 Pontiank. Pada saat di bangku sekolah dasar (SD) saya selalu mendapat rangkin 1-2 dari kelas satu sampai kelas enam, di bangku sekolah menengah pertama (SMP) Prestasi sedikit menurun hanya selalu mendapat peringkat ke-3 dan ketika berada di bangku sekolah menengah kejuan (SMK) prestasi saya lebih menurun hanya masuk peringkat ke-10 besar, ketika menempuh pendidikan di SMK saya menjadi ketua bidang ke agamaan, saya pun tidak tahu mengapa saya dipilih di bidang itu dengan ketidak tahuan saya tentang agama. saya juga pernah di undang untuk menjadi pembaca do'a ketika milad Muhammadiyah se-Kalbar, saat di kelas XI SMK saya mengikuti clash meeting dengan lomba adzan dan alhamdulillah saya mendapatkan juara pertama, setelah itu saya juga pernah mengikuti lomba kebudayaan Pontianak yaitu lomba gala kepung/ gala hadang dan pada saat itu TVRI Kalbar yang mengadakan dan diikuti berbagi macam sekolah menengah atas di pontianak dan alhamdulilllah saya mendapatkan juara pertama pada saat itu. lanjut cerita saya juga mengikuti lomba stand up komedy pada waktu yang sama dan alhamdulillah saya tidak mendapatkan juara. heheheh....
Berangkat dari cerita pendidikan saya. Setiap anak di Indonesia seharusnya mendapatkan pendidikan wajib belajar selama minmal 9 tahun atau jenjang SMP bahkan 12 tahun yaitu SMA, namun mengapa pendidikan Indonesia masih tertinggal.
Belakangan ini saya sedikit suka berkeliling di berbagai kabupaten di Kalbar dan melihat tentang kondisi Pendidikan yang kurang baik. Terdapat di salah satu Desa yang terletak Kecamatan Ambawang Kabupaten Kubu Raya.
1. Pendidikan belum merata
Masalah ini merupakan masalah yang sudah sejak lama ada, kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan di daerah pelosok adalah alasannya. Bagi anak-anak yang berada diperkotaan mungkin sudah sebagian besar bisa menjangkau pendidikan, namun bagi mereka yang ada di pelosok? Perlu berjalan sejauh belasan kilometer untuk sekedar belajar.
2. Kualitas guru yang biasa
Di negara-negara maju profesi guru adalah profesi unggulan, namun di Indonesia hanya sedikit yang berniat menjadi guru. Hanya sebagian orang-orang yang ingin menjadi guru, karena rendahnya gaji serta tunjangan jika menjadi guru apalagi guru honorer. Di negara maju profesi guru menjanjikan kesejahteraan yang tinggi dan dihargai.
3. Kesadaran akan pendidikan yang rendah
Edukasi yang kurang terhadap orang tua terutama di daerah pelosok akan pentingnya pendidikan, banyak orang tua di pelosok yang berpikir pendidikan tidak begitu penting sehingga banyak anak pada usia sekolah berhenti sekolah untuk mencari nafkah.
4. Infrastruktur dan fasilitas yang tidak memadai
Fasilitas di sekolah-sekolah besar mungkin sudah memadai untuk mendukung pendidikan, namun di sekolah yang kecil dan terpencil, infrastruktur masih sangat minim. Bahkan ada sekolah yang atapnya bocor serta temboknya hanya dari kayu saja seperti yang terdapat di kecamatan ambawang ini.
5. Anggaran untuk pendidikan yang menguap
Anggaran untuk pendidikan termasuk besar yaitu 20 persen APBN, namun masih tidak begitu terasa manfaatnya. Mungkin saja dana tersebut di korupsi oleh beberapa pihak. Lagi-lagi karena lemahnya hukum di Indonesia membuat aliran dana menguap begitu saja tanpa diketahui kemana uang tersebut menguap.
(Penulis: Jamalludin)
perkenalkan nama saya Jamalludin, saya anak ke-4 dari empat bersaudara, saya memiliki satu orang abang dan dua orang kakak. saya terlahirkan dari seorang ayah yang bernama M.Yunus, dan seorang ibu yang bernama Asnah. Saya lahir di desa Seruat Satu Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada saat masa kecil, saya menjadi pengambala kambimg sampai di bangku sekolah menegah pertama (SMP). Saat saya mengembala kambing alhamdullillah kambing yang saya pelihara berkembang biak dengan baik dan dapat di jual kepada orang-orang yang ingin berqurban dan sebagiannya di peruntukan untuk qurban orang tua serta saudara saya. saya menempuh pendidikan di SDN 14 Teluk Pakedai lalu melanjutkan di SMPN 5 Teluk Pakedai setelah lulus di bangku sekolah menengah pertama (SMP) saya melanjutkan pendidikan di SMK Muhammadiyah 1 Pontiank. Pada saat di bangku sekolah dasar (SD) saya selalu mendapat rangkin 1-2 dari kelas satu sampai kelas enam, di bangku sekolah menengah pertama (SMP) Prestasi sedikit menurun hanya selalu mendapat peringkat ke-3 dan ketika berada di bangku sekolah menengah kejuan (SMK) prestasi saya lebih menurun hanya masuk peringkat ke-10 besar, ketika menempuh pendidikan di SMK saya menjadi ketua bidang ke agamaan, saya pun tidak tahu mengapa saya dipilih di bidang itu dengan ketidak tahuan saya tentang agama. saya juga pernah di undang untuk menjadi pembaca do'a ketika milad Muhammadiyah se-Kalbar, saat di kelas XI SMK saya mengikuti clash meeting dengan lomba adzan dan alhamdulillah saya mendapatkan juara pertama, setelah itu saya juga pernah mengikuti lomba kebudayaan Pontianak yaitu lomba gala kepung/ gala hadang dan pada saat itu TVRI Kalbar yang mengadakan dan diikuti berbagi macam sekolah menengah atas di pontianak dan alhamdulilllah saya mendapatkan juara pertama pada saat itu. lanjut cerita saya juga mengikuti lomba stand up komedy pada waktu yang sama dan alhamdulillah saya tidak mendapatkan juara. heheheh....
![]() |
| (Jamalludin) |
Belakangan ini saya sedikit suka berkeliling di berbagai kabupaten di Kalbar dan melihat tentang kondisi Pendidikan yang kurang baik. Terdapat di salah satu Desa yang terletak Kecamatan Ambawang Kabupaten Kubu Raya.
1. Pendidikan belum merata
Masalah ini merupakan masalah yang sudah sejak lama ada, kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan di daerah pelosok adalah alasannya. Bagi anak-anak yang berada diperkotaan mungkin sudah sebagian besar bisa menjangkau pendidikan, namun bagi mereka yang ada di pelosok? Perlu berjalan sejauh belasan kilometer untuk sekedar belajar.
2. Kualitas guru yang biasa
Di negara-negara maju profesi guru adalah profesi unggulan, namun di Indonesia hanya sedikit yang berniat menjadi guru. Hanya sebagian orang-orang yang ingin menjadi guru, karena rendahnya gaji serta tunjangan jika menjadi guru apalagi guru honorer. Di negara maju profesi guru menjanjikan kesejahteraan yang tinggi dan dihargai.
3. Kesadaran akan pendidikan yang rendah
Edukasi yang kurang terhadap orang tua terutama di daerah pelosok akan pentingnya pendidikan, banyak orang tua di pelosok yang berpikir pendidikan tidak begitu penting sehingga banyak anak pada usia sekolah berhenti sekolah untuk mencari nafkah.
4. Infrastruktur dan fasilitas yang tidak memadai
Fasilitas di sekolah-sekolah besar mungkin sudah memadai untuk mendukung pendidikan, namun di sekolah yang kecil dan terpencil, infrastruktur masih sangat minim. Bahkan ada sekolah yang atapnya bocor serta temboknya hanya dari kayu saja seperti yang terdapat di kecamatan ambawang ini.
![]() |
| (dokumentasi sekolah dasar SD di salah satu desa yangterletak di kecamatan ambawang) |
5. Anggaran untuk pendidikan yang menguap
Anggaran untuk pendidikan termasuk besar yaitu 20 persen APBN, namun masih tidak begitu terasa manfaatnya. Mungkin saja dana tersebut di korupsi oleh beberapa pihak. Lagi-lagi karena lemahnya hukum di Indonesia membuat aliran dana menguap begitu saja tanpa diketahui kemana uang tersebut menguap.
(Penulis: Jamalludin)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar